Kemerdekaan Dalam Perspektif Sastra

Pola pikIr inilah yang kemudian membuat sastra lisan seperti “terpenjara dalam keadaan hidup setengah mati”. Sastra lisan mulai terpinggirkan bahkan sudah tidak lagi dikenali oleh generasi muda. Miris, sedih penuh duka.

Sastra lisan yang dahulu digunakan oleh para tetua untuk memberikan nasehat, menanamkan norma agama dan adat istiadat, bahkan dipergunakan sebagai syiar agama mulai luntur nyaris hilang tak berbekas. Hal inilah yang kemudian melandasi adanya istilah “kemerdekaan sastra”. Istilah ini bermakna dua arah, pertama istilah kemerdekaan sastra bermakna bahwa cakupan sastra sangat luas dan bisa menyentuh segala aspek manusia sesuai sudut pandang yang digunakan. Sastra bisa mencakup keagamaan, social, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, budaya dan adat istiadat.

Baca Juga  Ulekan cabe Jadi Saksi Bisu Kebiadaban Sahrudin

Arti yang kedua bermakna bahwa sastra hendaknya dipandang sebagai “keluarga” dari manusia yang harus diperhatikan agar kebersamaan sastra dan manusia tetap selaras tanpa memandang pergantian masa. Sastra sebagai “keluarga” membawa arti bahwa kebersamaan dan penjagaan lebih selalu diberikan karena sastra sudah dianggap sebagai bagian dari diri sendiri, baik disaat suka maupun duka. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, saling mendukung dan membangun, dan sawang sinawang. Sastra yang telah dianggap sebagai bagian dari keluarga memungkinkan individu menganggap sastra sebagai belahan jiwa, dimana jika belahan jiwanya hadir maka ia akan merasa hidup dan tenang tetapi jika belajahan jiwanya hilang maka akan ada kekosongan direlung jiwanya. Pemaknaan kedua inilah yang masih harus dipupuk lebih dalam sehingga makna sejati kemerdekaan sastra dapat menirus relung jiwa masyarakat kita dan sastra dapat tinggal lebih lama dari generasi ke generasi.

Baca Juga  Bismi Merasa Tidak Salah Berharap Majelis Hakim dapat Memberikan Keputusan Bebas

Harapan dengan adanya pengimplementasian pemaknaan kemerdekaan dan kemerdekaan sastra adalah tumbuhnya generasi Indonesia yang penuh dengan simpati dan empati, tumbuh menjadi generasi humanis, cinta diri sendiri, cinta keluarga dan cinta tanah airnya sehingga melahirkan rasa bangga terlahir sebagai rakyat Indonesia.

Yanti Sariasih
Dosen,
Asesor BAN PAUD PNF,
Kepala TK Gemilang Jaya Baturaja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)