Kemerdekaan Dalam Perspektif Sastra

SINERGINKRI.COM, OKU – Agustus merupakan bulan yang istimewa bagi negara Indonesia, bulan dimana peristiwa sejarah tidak terlupakan sepanjang sejarah manusia yaitu moment kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kemerdekaan yang dicapai dengan jalan penuh liku dan berdarah-darah, sehingga sangat wajar jika perjuangan itu tidak lekang oleh waktu hingga saat ini. Indonesia telah merdeka selama 76 tahun, tentunya sudah banyak prestasi yang dicapai walaupun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satu pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan adalah permasalahan dalam bidang pendidikan, termasuk didalamnya pekerjaan rumah tentang sastra.

Sepanjang kehidupan manusia tidak terlepas dari sastra. Kehidupan memberi warna baru pada sastra, dan sastra turut andil mewarnai kehidupan penikmat sastra. Sebut saja Chairil Anwar (Puisi “Aku”, “Kerawang Bekasi”), WS. Rendra (Puisi “Hai, Ma”, “Maskumambang”), Sutan Takdir Alisyahbana (Novel “Layar Terkembang”, “Tak Putus Dirundung Malang”), N.H. Dini (Novel “Pada Sebuah Kapal”), Mara Rusli (Novel “Siti Nurbaya), Andrea Hirata (Novel “Laskar Pelangi”), sampai pada Habiburrahman El-Syirazy (Novel “Ayat-Ayat Cinta”, “Pudarnya Pesnona Cleopatra”, “Ketika Cinta Bertasbih”) adalah sederet sastrawan terkenal yang pernah dimiliki negara ini. Mereka adalah orang-orang yang konsisten berkecimpung dalam dunia sastra, bahkan ada yang sampai akhir hayat mereka tetap setia pada sastra.

Baca Juga  Calon Kepala Desa Lulus Seleksi Tambahan Pada Pilkades Serentak OKU Selatan Tahun 2021

Terlepas dari harumnya nama-nama sastrawan diatas, masih banyak jenis sastra yang belum terjamah padahal ia bertebaran dan hidup di masyarakat. Ia bertebaran dan hidup di masyarakat tetapi mati suri, inilah sastra lisan.

Sastra lisan atau sastra tutur ini sejatinya sudah ada sejak dulu. Mereka hidup berdampingan penuh harmoni dengan manusia, tetapi karena perkembangan dunia yang semakin modern sastra lisan ini sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Tidak jarang masyarakat memandang sastra lisan ini kuno, jadul, bahkan sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan jaman saat ini. Lebih miris lagi seolah-olah masyarakat lupa bahwa banyak jenis sastra yang bermanfaat untuk mengutarakan pesan, amanat, ide para sastrawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)