Hukrim  

Jaksa Penuntut Umum Hadirkan Supir Ambulan Terkait Kasus Pembunuhan Brigadir J

“Warna?” kata Hakim

“Hitam,” jelas Ahmad.

“Tadi saudara mengatakan saudara memegang kepala, ada keluar darah?” tanya hakim.

“Saat saya angkat saya memegang tangan yang mulia,” jawab Ahmad.

“Bukan kepala?” timpal Hakim

“Tangan yang mulia dua-duanya (kedua tangan dengan posisi telentang),” kata Ahmad.

“Jadi tangan begini ya oke, dari bawah waktu diangkat kepalanya ngeluarin darah enggak?” tanya hakim lagi.

“Ada yang mulia (keluarkan darah dari kepala belakang),” ujar Ahmad.

“Saya tidak tahu (banyak atau sedikit) darah itu dari badannya atau dari kepala. Itu yang genangan di lantai yang mulia, karena saya tidak ada di TKP, saya hanya melihat jenazah ditutup masker,” ujarnya.

Baca Juga  Kejaksaan Agung RI Menyatakan Berkas Perkara Kasus Ferdi Sambo Telah Lengkap

Ahmad mengatakan jasad Brigadir J sempat dilipat kakinya agar masuk ke kantong jenazah. Dengan melipat kaki sedikit untuk selanjutnya jenazah dibawa dengan tandu ke dalam mobil ambulans.

“Lalu dimasukan ke dalam mobil. Saya masuk mobil. Ketika itu bapak-bapak (polisi) itu (meminta untuk) persiapan. Pas saya mau nyalain lampu ambulans. ‘Tahan dulu mas. Nunggu arahan aja. Nanti dikawal’,” bebernya.

“Lalu saya jalan di situ ada mobil Provos Pajero saya di belakang. Lalu ada anggota provos turun. Nanya kamu sama siapa mas? Saya sendiri. Akhirnya saya ditemani di dalam mobil. Akhirnya saya jalan,” tambah dia.

“Diarahkan bawa jenazah kemana?” kata Hakim.

“RS Polri,” jawab Ahmad.

Baca Juga  Polres OKU Selatan Kembali Amankan Dua Bandar Narkoba Jenis Sabu

“Sampai sana ga ada hambatan?” tanya hakim.

“Macet yang mulia,” timpal Ahmad.

jenazah Brigadir J diminta dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Polri Kramat Jati dari rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Bukan kamar jenazah.

“Saat itu enggak langsung dibawa ke kamar jenazah dibawa ke IGD. Saya tanya ‘pak izin kenapa dibawa ke IGD dulu’. katanya ‘saya juga enggak tahu mas. Saya ikuti arahan’. Sampai IGD sudah ramai, datang dah tuh petugas polri korbannya berapa orang?” kata Ahmad tirukan percakapan dengan anggota yang temaninya selama perjalan.

“Saya juga bingung dilihat ‘waduh sudah kantong jenazah’ ditanya ‘korban berapa? Satu, terus ya sudah mas dibawa ke belakang aja kamar jenazah’.”

Baca Juga  Polres OKU Selatan Ungkap Delapan Kasus Sikat Musi dan Kasus Persetubuhan Terhadap Anak

“Lalu saat saya di kamar jenazah ada bapak-bapak anggota bilang ‘sebentar dulu ya mas’ trus minta tolong dibantu turunkan. Saya langsung turunkan berjalan ke kamar jenazah lalu saya pindahkan ke kamar troli kamar jenazah,” lanjut Ahmad.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)