28 Tahun Mengabdi Sebagai Guru Honorer Dengan Upah Rp.250 Ribu

OKIsinerginkri.com – Solbiah guru Honorer senior yang bermukim di sebuah Dusun Sungai Rasau tepatnya di Desa Riding Kacamata Air Sugihan OKI Sumatera Selatan

Untuk menuju ke Desa itu di butuhkan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan melalui jalur darat atau sekitar 60 kilometer dari Kota Palembang.

Solbiah,mengabdikan hidupnya selama 28 tahun untuk membangun insan cendikia, keinginannya tak lain dan tak bukan hanya ingin melihat anak anak di Dusun Rasau maju dalam bidang pendidikan.

Selama 28 tahun Solbiah harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 7 kilometer dari rumah menuju sekolah.

Hal ini juga yang membuat rendahnya Indeks Pembangunan Manusia ( IPM ), Dusun yang dulu di kenal sebagai komunitas adat terpencil karena minimnya fasilitas yang membuat dusun ini sulit berkembang.

Baca Juga  Himpaudi Kecamatan Pampangan Gelar Gebyar Lomba Senam Ceria, Mewarnai dan Fashion Show

“Di Dusun inipun hanya ada satu sekolah Dasar dengan bangunan 4 ruangan dan tiga lokal ruang kelas dan satu ruang guru” jelasnya.

“Sehingga jam belajar dinilai sangat tidak efektifitas yakni dua shift kelas 1-3 Pukul 08.00-10.00 WIB dan shift kedua pukul 10.00 -12.00 WIB”.

Kesulitan mengeyam pendidikan pula yang menjadi dasar kenapa mereka tidak ingin melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, mereka rata – rata memilih bekerja dan menikah di usia muda.

Dengan upah sebagai guru honorer Rp.250 ribu perbulan tidaklah cukup untuk menutupi kebutuhan sehari – hari,namun hal ini tidak membuat surut niat Solbiah untuk membangun dunia pendidikan di Desa dan demi generasi penerus bangsa.

Baca Juga  Muhamad Akbar SE Berikan Bantuan Korban Kebakaran Tulung Selapan

” saya konsisten dengan apa yang sudah menjadi keputusan ini” ucap Solbiah.

Untuk menutupi kebutuhannya, solbiah bekerja sebagai pengerajin arang dengan bahan baku kayu akasia yang hanyut di sungai.

“Satu kali produksi bisa memakan waktu 4-5 hari dan menghasilkan lima karung arang yang di jual 20 ribu per karungnya”.

Inilah Solbiah ,seorang perempuan tangguh pejuang dunia pendidikan yang mengabdi di Desa terpencil yang jauh dari perhatian Pemerintah.

Seharusnya Pemerintah memberi sedikit perhatian ,ini baru satu solbiah yang terkuak, mungkin masih banyak solbiah – Solbiah di luar sana yang tidak terekspos.

Solbiah berharap Pemerintah melihat kami disini di Desa yang jauh dari jangkauan ,terisolasi dan tersingkir .

Baca Juga  Cegah Gangguan, PLN Kayuagung Gencarkan Pemeliharaan Jaringan Listrik

Ya.. kami tenaga honorer yang jauh dari kata sejahtera ,harusnya Pemerintah sedikit peka terhadap kami dan untuk melihat ke pelosok Desa untuk kebaikan bersama. (Yui Zahana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)