IMIP Topang Fiskal Negara, Tingkatkan Ekspor dan Ekonomi

Morowali, Sinerginkri.com | Sektor industri pengolahan di Kabupaten Morowali menjadi penggerak utama yang memacu surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah (Sulteng).

Selain meningkatkan nilai ekspor, aktivitas manufaktur khususnya di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) juga memberikan multiplier effect terhadap perekonomian lokal. Termasuk peningkatan aktivitas usaha, mobilitas tenaga kerja, serta potensi penerimaan pajak daerah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulteng, Andi Irman S.STP, MM, mengakui, struktur ekonomi daerah memang tidak sepenuhnya bergantung pada sektor industri. Komoditas pertanian dan perkebunan seperti kakao, kelapa, serta bidang perikanan tetap berperan sebagai penopang daerah, terutama dalam menjaga keseimbangan dan diversifikasi jangka panjang.

Namun aktivitas hilirisasi mineral berbasis nikel, kata Irman, di kawasan industri Morowali telah mendorong perubahan struktur dari berbasis mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Feronikel, nickel pig iron, dan berbagai turunan logam lainnya kini menjadi komoditas utama ekspor Sulawesi Tengah.

Baca Juga  Perkuat Komunikasi dan Sinergi Kerja Lewat Kelas Bahasa IMIP

“Dari sisi perdagangan luar negeri, Sulawesi Tengah mencatatkan kinerja yang solid dengan dominasi ekspor produk hasil hilirisasi industri. Nilai ekspor tinggi terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara sebagai pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” urai Andi Irman dalam pernyataan resminya. Di sisi lain, impor daerah didominasi barang modal dan bahan baku industri.

Lanjut Irman, sektor industri pengolahan mencatatkan kinerja perdagangan luar negeri yang sangat kuat sepanjang 2025. Data terbaru menunjukkan nilai ekspor Sulteng menembus angka USD 22,32 miliar, tumbuh 5,14% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 21,22 miliar. Di sisi lain, aktivitas impor juga meningkat menjadi USD 11,31 miliar sebagai respons atas kebutuhan bahan baku dan barang modal dalam mendukung ekspansi industri.

Baca Juga  IMIP Mengukir Jalan Masa Depan, Salurkan 638 Beasiswa Hilirisasi

Data tersebut diperkuat oleh posisi Kabupaten Morowali sebagai pusat aktivitas perdagangan luar negeri di Sulteng. Di aspek bandar muat, Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatatkan nilai ekspor gabungan sebesar USD 18,08 miliar. Angka ini mencerminkan dominasi kuat, dengan 81% dari total ekspor Sulteng bersumber dari kegiatan industri dan perdagangan luar negeri yang berpusat di Morowali.

Dari sisi struktur komoditas, ekspor didominasi produk besi dan baja dengan pangsa sebesar 61,31%, disusul oleh nikel sebesar 16,59%. Ketangguhan sektor ini terlihat dari daya tahan ekspor yang tetap tumbuh hingga 17,41% dalam tiga tahun terakhir (2023–2025), meskipun harga nikel di pasar global (London Metal Exchange/LME) mengalami tren menurun hingga 40,82% sejak 2022.

Baca Juga  Satu Dekade Klinik IMIP Layani Kesehatan Gratis Warga Bahodopi

Dari situ, tambah Irman, pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng memperkirakan, prospek perdagangan luar negeri hingga tiga tahun mendatang tetap positif, yang sangat dipengaruhi dinamika permintaan global, khususnya Tiongkok sebagai mitra dagang utama. Tim ekonom BI Sulteng menekankan, dua komoditas andalan ekspor berbasis nikel dari kawasan industri IMIP ialah baja tahan karat (stainless steel) dan mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai prekursor baterai kendaraan listrik (EV battery).

Kinerja ekspor daerah Sulteng diyakini tetap resilien dan berdaya tahan di tengah gejolak pergerakan harga komoditas global. Arah kebijakan nasional pada tahap penguatan hilirisasi sumber daya mineral juga berpengaruh pada keberagaman struktur komoditas ekspor Sulteng yang tidak didominasi bahan setengah jadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)