Religi  

Kisah Sejarah Maung Panjalu Jawa Barat

banner 120x600
Ciamis,SinergiNKRI – kisah Maung Panjalu ini berlatar belakang hubungan cinta antara dua anak manusia berbeda kerajaan yakni Pajajaran (Sunda) dan Majapahit (Jawa), dua kerajaan besar di tanah Jawa. Maung artinya harimau dalam bahasa Sunda.
Menurut Babad Panjalu kisah Maung Panjalu berawal dari Dewi Sucilarang puteri Prabu Siliwangi (Pajajaran) yang dinikahi Pangeran Gajah Wulung putera mahkota Raja Majaphit Prabu Brawijaya yang diboyong ke Istana Kerajaan Majapahit.
Saat usia kandungan Dewi semakin mendekati persalinan, ia meminta agar dapat melahirkan di tanah kelahirannya di Pajajaran. Suaminya pun menindahkan dan mengantarkan rombongan istrinya mudik dikawal tentara kerajaan.
Ketika sampai di hutan belantara Panumbangan, Kerajaan Panjalu, rombongan bermaalam dengan mendirikan beberapa tenda. Di tengah malam, Dewi Sucilarang melahirkan dua orang putera-puteri kembar, yang lelaki diberi nama Bongbang Larang dan yang perempuan Bongbang Kancana.
Ari-ari kedua bayi itu disimpan dalam sebuah pendil atau wadah terbuat dari tanah liat, dan diletakkan di atas sebuah batu besar. Kedua cucu kembar dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran itu kemudian tumbuh di lingkungan Keraton Pakwan Pajajaran.
Keduanya sama-sama ingin bertemu ayahnya di Majapahit. Karena tak mendapat izin, keduanya diam-diam minggat untuk menjumpai sang ayah.
Si kembar ini menempuh perjalanan panjang. Saat beristirahat di belantara kaki Gunung Sawal, masih di Kabupaten Ciamis, keduanya kehausan lalu mencari sumber air.
Mereka mendapati sebuah pendil berisi air di atas sebuah batu besar yang sebenarnya adalah bekas wadah ari-ari mereka sendiri.
Keduanya kemudian berguru dengan orang sakti bernama Aki Garahang di padepokannya, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Namun keduanya melanggar aturan guru dengan mandi di kolam berisi aneka ikan warna-warni. Si kembar Bombang ini seketika berubah jadi harimau.
Kedua harimau kembar jadi-jadian itu pun kemudian meneruskan pengembaraannya hingga berhasil menemui ayah mereka yang sudah menjadi Raja Majapahit. Ayah Maung Panjalu itu terharu mendengar kisah perjalanan putera-puteri kembarnya itu.
Sang Prabu kemudian memerintahkan Bongbang Larang untuk menetap dan menjadi penjaga di Keraton Pajajaran, sedangkan Bongbang Kancana diberi tugas untuk menjaga Keraton Majapahit.
Namun banyak orang percaya keduanya tinggal di hutan Panjalu di pulau yang berada di tengah Situ Lengkong tersebut. Kabarnya sampai sekarang, beberapa warga di sekitar Panjalu masih melihat harimau di hutan. Warga menganggap kucing loreng besar itu adalah harimau jadi-jadian Bombang Larang dan Bombang Kencana yang sedang berjaga-jaga.
Berkat kedua harimau ‘siluman’ itu orang pun takut menebang pohon apalagi merusak hutan.
sebuah kearifan lokal (local wisdom) di balik kisah mistis bermuatan ramah lingkungan yang berhasil menjaga kelestarian hutan dan keberadaan sumber mata air setempat.
(Rachmat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)