Religi  

Kisah Jaka Bajul Dan Beduk Kramat Desa Jatisawit

Jatibarang,SinergiNKRI.Com – 
Seriwayat pada jaman dahulu di Desa Jatisawit Jatibarang, tinggallah sepasang suami istri. Namanya Ki Kamal dan Nyi Santi. Pada saat itu Kuwu Jatisawit dijabat oleh Ki Sardana. Kuwu Jatisawit ini mempunyai anak semata wayang, namanya Katijah.

Ki Kamal dan istri hidupnya sangat bersahaja dan penuh kesederhanaan. Sehari-hari Ki Kamal dalam mengumpani hidupnya dengan mencari ikan, baik di sungai maupun di laut. Pasangan suami istri ini tidak dikaruniai anak.

Sekalipun tidak dikaruniai anak, Ki Kamal dalam hatinya tidak ada niatan untuk mencari istri madu—wayuan—atau menceraikan Nyi Santi. Ki Kamal termasuk orang yang sabar dan tawakkal. Sehabis subuh berangkat mencari ikan, sorenya pulang. Hasil tangkapannya lalu dijual oleh istrinya, Nyi Santi.

Baca Juga  Harnojoyo dan Kapolresta baru bersinergi  safari subuh dan bagi sembako

Sekaul kanda, pada malam kamis, istri Ki Kamal bermimpi ketiban pulung. Ia dalam mimpinya mendapatkan rejeki. Pagi harinya seperti biasa Ki Kamal pergi mencari ikan. Namun, hingga sore hari kembu-nya masih saja kosong. Dengan lemas Ki Kamal pun pulang ke rumah menemui istrinya.

Sebelum sampai ke rumah, di tengah jalan ia melihat anak buaya. Daripada membawa tangan kosong, Ki Kamal pun berpikir mending dibawa saja anak buaya tersebut. Sesampai rumah, anak buaya tersebut ditaruhnya di balong—kolam kecil.

Buaya ini diurusnya dengan baik. Namun, ada satu keanehan. Buaya ini seperti manusia. Apa yang ia makan seperti layaknya seorang manusia. Buaya ini suka dengan nasi, sambal, dan lainnya.

Baca Juga  Wisata Religi Memiliki Banyak Manfaat Sejarah

Lambat laun buaya ini semakin tumbuh kembang. Ia semakin besar. Selama itu pula buaya ini diasuh oleh Ki Kamal dan Nyi Santi. Ada hal yang sangat menggembirakan kedua pasangan ini. Buaya tersebut tak pernah bikin ulah. Tak pernah mengganggu orang.

Saban bulan purnama, buaya ini mengubah wujudnya menjadi manusia. Ketika Ki Kamal dan Nyi Santi sudah tidur, buaya ini segera menjelma menjadi sesosok manusia ganteng. Ia menyebut dirinya dengan sebutan Jaka Bajul.

Setelah berganti wujud, Jaka Bajul ini mencari teman-temannya. Kesana-kemari. Ternyata, hanya di rumah Kuwu Sardana yang paling ramai. Di rumah Kuwu banyak sekali bujang dan gadis sedang bermain. Di situlah perjumpaan pertama kali antara Katijah dan Jaka Bajul.

Baca Juga  Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Mengukuhkan Situs Budaya Keramat Batok

Katijah yang lugu dan Jaka Bajul yang sedang kesepian. Benarlah pepatah Jawa bilang ‘witing tresna jalaran saka kulina’. Lama kelamaan Katijah, anak Ki Kuwu, jatuh cinta kepada Jaka Bajul.

Gadis Kuwu Jatisawit ini rupanya sedang dalam masa berag batok. Masa dimana seorang gadis lugu baru mencintai lawan jenisnya. Katijah yang sedang gandrung menceritakan segala apa yang sedang dijalaninya sekarang. Bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan seorang bujang bernama Jaka Bajul.

Beberapa hari kemudian, Ki Sardana pun menyidang Jaka Bajul. Ditanyailah ia, dari mana? Anak siapa? Jaka Bajul menjawab bahwa ia anak Ki Kamal dan Nyi Santi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)