Menteri Kesehatan,Pemerintah terus melakukan surveilans untuk memonitor varian baru Covid-19

  • Bagikan
Jakarta,SinergiNKRI.Com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah terus melakukan surveilans untuk memonitor varian baru Covid-19 dari mulai varian Mu, Lambda, hingga Delta. Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya penyebaran di Tanah Air.
“Di sisi surveilans kami juga terus memonitor adanya varian-varian baru baik varian Mu maupun Lambda termasuk juga varian mutasi Delta yang ada di Indonesia dan memang sudah terjadi di seluruh dunia,ungkap Budi dalam konferensi pers secara daring.

Budi memastikan monitoring dilakukan secara ketat. Sehingga ketika varian tersebut masuk ke Indonesia, pemerintah sudah siap dan telah mengantisipasi. “Kami monitor secara ketat untuk memastikan kita siap dan tidak terlambat kalau ada masuknya mutasi-mutasi baru ini ke Indonesia,” tegas Budi.

Pemerintah, sambung Budi, juga akan terus menjaga perbatasan Indonesia demi mencegah adanya penularan varian baru. Selain melakukan monitoring ketat, pemerintah juga terus menguatkan vaksinasi Covid-19 terhadap masyarakat.

Saat ini sudah 222 juta dosis vaksin yang diterima Indonesia, 193 juta di antaranya sudah dikirim ke berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 143 juta vaksin juga telah disuntikkan kepada masyarakat.

Jadi total stoknya ada di kita masih ada di kisaran 70 jutaan masih cukup banyak dan sekarang kita terus membicarakan bagaimana percepatan vaksinasi ini,” ungkap Budi.

Ragam mutasi Covid-19 terus diteliti agar bisa diantisipasi sifatnya. Saat ini varian baru yang muncul adalah varian Mu dan varian C.1.2. Selain itu, varian baru R.1 juga masih dalam pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).2021

Menurut Defriman, hasil dari suatu kajian di Jepang mengatakan terdapat netralisasi yang tidak efektif dari varian Mu terhadap plasma konvalesen dan vaksin. Ia menuturkan varian Mu masih tergolong variant of interest (VoI), dan ada kemungkinan untuk masuk ke Indonesia.

“Mobilitas terus berjalan pada saat pandemi, sangat memungkinkan varian ini bisa muncul jika protokol kesehatan masyarakat dan sistem surveilans yang tidak jeli dalam mendeteksi ini,” ujarnya.

Defriman menuturkan upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan kewaspadaan agar varian tersebut tidak masuk ke Indonesia. Selain itu, penerapan protokol kesehatan di tengah masyarakat juga harus ditingkatkan dan diawasi.

Penguatan sistem surveilans harus dilakukan, dan sampel saat ini juga harus segera secara berkala dianalisis melalui pengurutan keseluruhan genom (whole genome sequencing), agar cepat mendeteksi dan mengambil langkah-langkah pengendalian yang komprehensif. Hingga sekarang ini, varian yang masuk daftar VoI adalah varian Eta, Iota, Kappa, Lambda dan Mu.

Sementara Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyampaikan, varian baru R.1 masih dalam pemantauan WHO. “Saat ini varian R.1 masih tergolong varian under monitoring oleh WHO sehingga perlu ditindaklanjuti dengan monitoring lebih lanjut sebagai prinsip kehati-hatian,” ujarnya.

Ia mengingatkan kembali munculnya varian baru Covid-19 itu menunjukkan, Covid-19 belum sepenuhnya hilang dari dunia. “Untuk itu, sikap paling bijak kita lakukan ialah konsisten menjalankan protokol kesehatan di seluruh aspek kehidupan tanpa harus takut secara berlebihan,” kata Wiku.

Ia mengemukakan, varian R.1 pertama kali teridentifikasi oleh WHO pada Januari 2021 di Jepang. Saat ini, diketahui telah menyebar di beberapa wilayah di Amerika Serikat (AS).

(Tim / Red)
banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *