Sumsel  

Kebakaran Belt Conveyor Bukti PT Pusri Belum Aman, K MAKI : Harus Belajar Dari Kebakaran Beirut

sinerginkri.com – Ledakan di dekat pelabuhan di ibu kota Lebanon, Beirut pada 4 Agustus 2020 dari dokumen yang dilihat kantor berita Reuters dan informasi dari pejabat keamanan, PM dan Presiden sudah pernah diperingatkan bahwa simpanan amonium nitrat di pelabuhan itu berisiko menghancurkan Beirut jika meledak.Dec 30, 2020.

Amonium nitrat merupakan bahan kimia yang mudah meledak. Salah satu alasan mengapa amonium nitrat mudah meledak adalah karena senyawa ini mengandung bahan bakar dalam bentuk ion amonium dan nitrat yang merupakan zat penghasil oksigen yang kuat.

PT Pusri diduga menggunakan Amonium untuk pembuatan pupuk urea dan pupuk NPK namun tidak pernah ada informasi defosit amonium di pabrik pupuk PT Pusri. Kebakaran Belt Conveyor PT Pusri menjadi potensi ledakan besar puluhan kali kejadian ledakan di Beirut karena deposit Amonium PT Pusri ratusan ribu ton sementara di Beirut hanya 5000 ton. Korban ledakan di Beirut Libanon mencapai 200 orang tewas sementara 6500 org terluka parah dan luas areal yg hancur dalam rasio 10 km.

Baca Juga  GRPK RI Lahat dan K MAKI Gruduk Kejati Sumsel

“Keberadaan PT Pusri di lingkungan padat penduduk harus di tinjau ulang karena bila terjadi kecelakaan kerja berpotensi menelan korban ribuan jiwa manusia”, papar Bony Balitong Koordinator K MAKI

“PT Pusri seolah tertutup informasi dengan dunia luar sehingga info penting tentang bahayanya omonium nitrat yang terbakar dan diduga dapay menjadi pemicu ledakan besar tidak tidak pernah di ketahui dunia luar”, ulas Bony lebih lanjut.

Hasil penyelidikan Biro Investigasi Federal AS (FBI) menemukan penyebab ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, 4 Agustus 2020. Ledakan yang menewaskan lebih dari 200 orang itu dipastikan berasal dari 500 ton amonium nitrat yang disimpan di dalam salah satu gudang pelabuhan.

Baca Juga  Dinas Koperasi dan UKM OKU Timur Selenggarakan Pelatihan Pengembangan Kapasitas SDM

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab, yang mengundurkan diri setelah peristiwa itu, pernah mengatakan, ada lebih dari 2.750 ton amonium nitrat bahan pembuatan pupuk disimpan di gudang pelabuhan. Zat kimia yang berbentuk seperti butiran pasir dan tidak berbau itu disimpan secara sembarangan selama enam tahun di dalam gudang.

Menutup pendapatnya Bony Balitong menyatakan, “500 ton Amonium Nitrat sebabkan kehancuran kota Beirut ibukota Lebanon dengan korban jiwa 200 orang apalagi bila PT Pusri yang meledak maka mungkin ribuan orang yang tewas”. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)