PT IMIP Padukan Pelestarian Mangrove dan Kemandirian Ekonomi Warga

Rencana ini, sebut Adrian, disusun sedemikian rupa dengan target akhir agar benih tersebut memiliki nilai ekonomis, dapat dikomersialkan, hingga terserap secara berkelanjutan oleh pasar. Program ini menanam Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, dan Ceriops tagal.

Pemilihan jenis didasarkan pada pemetaan ekologis Tim CDC IMIP. Kelima jenis ini dinilai paling adaptif terhadap salinitas (kadar garam) perairan dan substrat lumpur berpasir di pesisir Morowali.

Sebagai bentuk evaluasi risiko dan menjaga rasio keberhasilan vegetasi, tim di lapangan melakukan pemantauan berkala yang disiplin.

“Monitoring setelah penanaman itu per tiga bulan sekali. Tapi bisa satu atau dua bulan, batas kritisnya di tiga bulan. Kita lakukan penyulaman terhadap bibit-bibit yang dirasa tidak tumbuh dengan baik. Sama seperti tahun 2026 ini, kita menyulam dari (penanaman) November 2025 lalu,” papar Adrian.

Ia menegaskan, IMIP terus aktif melakukan rehabilitasi lingkungan, termasuk program konservasi mangrove, terumbu karang, dan perlindungan keanekaragaman hayati.

Keberhasilan penanaman itu diakui tidak lepas dari kolaborasi dengan multipihak. Selain Departemen Community Development and CSR, agenda pelestarian ini melibatkan Departemen Environmental and Sustainability IMIP, beberapa tenant dalam kawasan, TNI Angkatan Laut (AL), Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia dan Mahasiswa Pecinta Alam Politeknik Industri Logam Morowali, serta partisipasi aktif warga desa.

Peliput : Abd Rahman Tanra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)