Dari Laboratorium ke Hidroponik, Jejak Karyawan IMIP di Ruang Hijau

Meidi memilih menciptakan ruang hijau kecil melalui tanaman hidroponik. Ia tidak mengklaim green house miliknya dapat menyelesaikan persoalan lingkungan di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel tersebut. Namun, ia melihat aktivitas sederhana itu sebagai bentuk kontribusi yang bisa ia lakukan. “Saya berharap hidroponik ini bisa menyumbangkan sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi,” ujarnya.

Kata Meidi, sedang memperluas green house untuk meningkatkan kapasitas produksi selada. Dan berharap dapat merekrut masyarakat sekitar Bahodopi dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Ia menyadari, status karyawan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang berlangsung selamanya. Karena itu, Meidi ingin memiliki sumber penghasilan lain yang dibangun sejak sekarang. Hidroponik menjadi ruang relaksasi mengelola tekanan dan rutinitas pekerjaan di laboratorium.

Ada cerita yang membuat Meidi berbeda dari kisah karyawan yang memiliki usaha sampingan. Ia justru menggunakan apa yang dimiliki untuk membangun pilihan lain. Ilmu kimia menjadi modal, pekerjaan di laboratorium melatih ketelitian, kemudian hobi sebagai pintu masuk dengan memanfaatkan media sosial alat pemasaran. “Saya harus ngonten biar orang tahu saya jual selada,” ujar Meidi.

Eka Oktavia, salah satu konsumen dan pemilik Frozen Food Bahomakmur mengaku, sering memesan selada di Mey Farm Hidroponik. Penilaiannya, rasa seladanya tidak pahit, ukurannya besar dengan harga terjangkau, Rp10.000/pohon.

“Kemasannya proper, bisa tahan hingga 10 hari dalam lemari pendingin,” kata Eka Oktavia.

Peliput: Abd Rahman Tanra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)