IMIP dan Geliat Ekonomi Bahodopi

Morowali, Sinerginkri.com | Bahodopi tidak pernah benar-benar tidur. Ribuan kendaraan melintas silih berganti. Puncaknya terjadi disetiap pergantian sif karyawan IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park).

Wilayah kecamatan ini, nyaris tak ada fasilitas hiburan yang dapat dinikmati, selain pasar malam atau wisata pantai. Tak ada mall atau wahana bermain. Tak pelak, kedai kopi menjadi salah satu pilihan utama karyawan IMIP untuk sekadar melepas penat sehabis bekerja. Inilah yang kemudian membuat usaha kedai kopi menjamur di Bahodopi.

Medio 2021, Moh. Ahdiat yang akrab dipanggil Yudi, menyulap bagian depan rumah kerabatnya di Desa Keurea, menjadi kedai kopi yang diberi nama Solusi Kopie. Sepekan pertama tak ada pelanggan. Selain brand jualannya belum dikenal juga karena ilmu meracik kopi yang dimiliki Yudi belum dibarengi fondasi bisnis.

Mengorbankan keinginannya untuk kuliah, selama dua tahun pemuda asal Kaleroang, Bungku Selatan itu fokus membangun usaha, menyusun visi-misi, rencana jangka pendek-panjang, dan rebranding. Keputusan tersebut akhirnya berbuah manis. Solusi Kopie kini jadi salah satu kedai paling ramai di Bahodopi.

Tidak tanggung-tanggung omsetnya kini mencapai Rp120–150 juta per bulan, berpotensi menembus Rp1,44 miliar setahun. Usahanya menumbuhkan efek penyebaran ke pemasok, transportasi, hunian, laundry, dan ritel. Sekitar 80% pelanggannya adalah pekerja IMIP. Kerap kali tanpa diminta, para pelanggannya ini dengan senang hati mempromosikan Solusi Kopie via unggahan di media sosial.

“IMIP tutup, selesai kita,” kata Yudi dengan sedikit kelakar, saat ditemui di kedai miliknya akhir September 2026.

Yudi berharap pertumbuhan Solusi Kopie turut mendorong kemajuan industri kopi di Indonesia lebih luas, sekaligus mendukung serapan hasil produksi petani kopi di berbagai daerah. Dari sebuah rumah keluarga yang ditata jadi kedai kecil di Desa Keurea, kisah Yudi menjadi sebuah potret bagaimana pertumbuhan kawasan industri tak hanya diukur dari kapasitas produksi atau nilai investasi.

Lebih jauh, ia mampu menumbuhkan ribuan peluang usaha yang bertumbuh di sekitarnya. Setali tiga uang dengan Yudi, masifnya aktivitas karyawan di kawasan IMIP juga menstimulan insting bisnis Andi Azis Taba. Pemilik Agen BRILink Kost Azis asal Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan tersebut mengakui sangat merasakan dampak ketika merintis usaha di lingkar industri hilirisasi nikel tersebut, sejak satu dekade silam.

Ia lebih dulu membangun kos-kosan sebelum melihat kebutuhan layanan transaksi perbankan di tengah bertambahnya pekerja kawasan. Pada akhir 2016 ia mengajukan diri sebagai agen BRILink dan mulai beroperasi Juli 2017.
Dari hanya tujuh transaksi pada hari pertama, kini dua gerai BRILink yang dikelolanya bisa melayani sekitar 2.000-2.500 transaksi dengan nilai Rp3-4 miliar per bulan.

Transaksi melonjak terutama saat periode pembayaran gaji, sehingga Azis beberapa kali harus ke bank untuk menambah persediaan uang tunai. Sekitar 60-70% pelanggannya adalah karyawan IMIP. Pertumbuhan bisnis perbankannya itu membuat Azis beberapa kali memperoleh apresiasi dari Bank BRI.

“Waktu volume transaksi mencapai sekitar 15.000 per bulan atau 500 per hari, saya dapat hadiah Honda Mobilio. Pernah juga dapat dua unit sepeda motor, dua unit mobil, dan emas,” kata Azis.

Keuntungan utamanya, kata Azis, hanya dari margin jasa transfer dan tarik tunai. Kini dia kembali melihat peluang dari pertumbuhan IMIP dan berencana mencari lokasi lebih dekat dengan pusat aktivitas kawasan untuk mengembangkan layanan BRILink sekaligus usaha makanan dan minuman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)