CSR IMIP Inisiasi Kerajinan Ecoprint, Pacu Ekonomi Kreatif Lokal

Morowali, Sinerginkri.com | Berbagai program pelatihan dan pendampingan kewirausahaan dilakukan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) untuk terus mendorong kemandirian ekonomi kreatif masyarakat. Dalam perjalanan operasionalnya, IMIP aktif memberdayakan UMKM lokal melalui agenda bimbingan teknis dan keberlanjutannya. Salah satu tanggung jawab sosial tersebut terlihat dalam pendampingan pada Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur.

Sekitar 15 anggota perkumpulan tersebut berlatar belakang beragam, mulai dari ibu rumah tangga, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) desa, guru, hingga pelaku usaha kecil. Mereka secara rutin berkumpul di Balai Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, setiap Sabtu untuk memproduksi berbagai kreasi ecoprint melalui pengolahan bahan tanaman menjadi kerajinan ramah lingkungan.

Humas Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur, Wa Ode Amanah (38), menjelaskan, proses pembuatan ecoprint mengandalkan kreativitas setiap anggota dalam menata pola daun pada kain.

“Kami memanfaatkan dedaunan alami sebagai sumber warna dan motif. Daun-daun kami susun dan cetak di atas kain setelah melalui pengolahan warna menggunakan bahan alami,” ujarnya, Senin (16/03/26).

Wanita yang karib disapa Rina itu mengatakan, jenis daun dipilih dari kandungan warna dan kekhasan bentuk untuk membuat cetakan pola. Misalnya daun lanang (Oroxylum indicum) yang bentuknya khas, seimbang, proporsional, serta kuat atau tidak mudah rusak. Juga daun Afrika (Vernonia amygdalina) yang populer untuk ecoprint karena kandungan tanin dan pigmen alami tinggi bertekstur kuat, tidak terlalu tebal, tak mudah robek dan mudah menempel pada kain saat dikukus. Coraknya yang bertulang tegas dan rapi menghasilkan pola cetakan urat daun yang jelas, elegan, serta berkarakter kuat.

Dedaunan tersebut sebagian besar diperoleh dari sekitar permukiman mereka di Bahomakmur, termasuk helai tanaman polong, kenikir, ketepeng, akar tunjung, dan mahoni. Sementara itu, daun jati sulit ditemukan sehingga mereka terkadang harus mencarinya hingga ke Kecamatan Bungku Tengah.

Menurut Rina, daun jati menjadi salah satu bahan favorit karena memiliki karakter serat yang khas dan mampu menghasilkan gradasi warna menarik pada kain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)

error: Content is protected !!